Dugaan Penyimpangan BOS hingga Nepotisme, Plt Kepala SMPN 16 Batang Hari Didesak Mundur
menaramedia.com, BATANG HARI — Jum’at 21 Agustus 2026. Gelombang laporan miring menerpa kepemimpinan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah SMP Negeri 16 Batang Hari, Tugino, yang berlokasi di Kecamatan Batin XXIV Durian Luncuk. Majelis guru bersama Komite Sekolah mencatat serangkaian tuduhan serius, mulai dari dugaan penyimpangan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), nepotisme rekrutmen tenaga honorer, hingga pengabaian laporan dugaan pelanggaran etika.
Carut-Marut Pengelolaan Dana BOS
Pengelolaan dana BOS periode 2024–2026 di SMPN 16 Batang Hari dinilai jauh dari asas transparansi. Komite dan majelis guru mengaku tidak pernah dilibatkan dalam perencanaan. Rapat pembahasan Rincian Kertas Kerja (RKK) periode Juli–September 2026 yang sempat digelar pun menggantung tanpa kepastian.
Sejumlah alokasi anggaran dinilai janggal dan merugikan operasional sekolah:
– Perjalanan Dinas Mencurigakan: Anggaran SPPD dialokasikan Rp620.000/bulan (Rp7,44 juta/tahun) dengan tujuan tidak jelas dan diduga dimanipulasi.
– Pembelian CCTV Tanpa Musyawarah: Pengadaan CCTV sejak pertengahan 2024 dilakukan sepihak dengan dugaan markup harga dan potensi cashback dari vendor.
– Kelumpuhan Fasilitas Belajar: Anggaran buku cetak yang wajib minimal 10% tidak terpenuhi. Kertas HVS hanya 3 rim, sementara dana ekstrakurikuler dan kegiatan 17 Agustus 2026 dipangkas drastis hingga siswa batal ikut pawai.
Dugaan Nepotisme & Staf “Gaji Buta”
Kebijakan rekrutmen tenaga honorer sejak pertengahan 2024 disinyalir melanggar regulasi UU ASN. Dari empat nama yang disorot, beberapa diduga menerima dana BOS tanpa bekerja patut:
– Safaatun Najmi: Bertindak sebagai guru pengganti kelas untuk Tugino, meski di sistem Dapodik nama Tugino tetap tercatat mengajar.
– Tasom & Riri: Diangkat sebagai staf TU dan operator BOS. Tasom tercatat hadir hanya 2–3 kali per semester namun tetap digaji.
– Joan (Anak Kandung Plt): Tetap terdaftar di Dapodik dan digaji BOS meski diduga tidak pernah masuk kerja selama hampir dua tahun.
Proyek Mangkrak & Rekam Jejak Performance
Pembangunan fondasi musala sekolah terbengkalai tanpa kepastian. Penggalangan sumbangan alumni dan tokoh masyarakat atas nama sekolah juga tidak pernah dipertanggungjawabkan secara transparan.
Kinerja pengajaran Tugino disorot karena sering meninggalkan kelas tanpa kendali. Situasi diperparah laporan orang tua murid terkait dugaan pelecehan seksual terhadap siswa yang hingga kini belum mendapat tindakan tegas.
Petisi Dua Kali Dikirim, Tunggu Respons Dinas Pendidikan
Majelis guru dan Komite Sekolah telah melayangkan dua kali petisi resmi mendesak pemberhentian Tugino. Pihak sekolah kini menunggu respons serta langkah investigasi mendalam dari Dinas Pendidikan dan Pemerintah Kabupaten Batang Hari.
Jurnalis: Arif (Time PWRI)

Komentar (0)